sastra dan dakwah

sastra dan dakwah

Jumat, 26 Oktober 2012

Cerpen


Sumber Obsesi

Suara adzan subuh menggema di cakrawala kehidupan, membangunkan aku dari mimpi dalam tidurku. Pagi yang cerah dengan suasana hati penuh harap dan semangat. Aku awali hariku dengan bersujud menyembut asma-Nya. Kicau burung gelatik, suara ayam berkokok, embun pagi, dan udara segar memberi nuansa pagi yang ceria penuh angan tentang masa depan. Cahaya mentari semakin membias cerah menyebar hangat ke seluruh jagad raya.
Hari ini sekolahku akan mengadakan Studi Wisata bagi siswa kelas dua, ke kota Semarang, dan salah satu objek yang akan kami kunjungi adalah AKPOL (Akademi Kepolisian), untuk mengisi waktu libur semester yang tinggal dua hari, sekaligus sebagai penambah pengalaman kami para siswa SMP pinggiran, tentunya aku sangat senang sekali dan betu bersemangat. Tiba-tiba ada suara seorang temanku menghampiri aku tuk berangkat kesekolahan bersama“Tamabah berangkat belum?” Tanya Nur. “Belum, tunggu bentar ya!” Jawabku.
Dengan semangat dan wajah berseri-seri aku bergegas berangkat, dengan sedikit tergesa-gesa karena harus berkumpul di sekolahan untuk ceking persiapan aku pun tak lupa meminta izin kepada Ibu dan Bapak, “Pak, Bu, Amad ajeng teng studi wisata teng Semarang nggeh,” pamitku. Ya, seng ngati-ati yo Le, ojo tumindak koyo nengumah dewe yo, lan ojo lali sholat!” jawab Ibu dan Bapak. “Njeh, Pak, Bu!” jawabku sambil tersenyum manis. Aku sudah di tinggu oleh teman-teman dan para guru di sekolahan karena aku dan Nur ternyata sudah telat lumayan lama.
Aku beserta rombongan sekolahan pun berangkat ke Semarang, dengan lima bis. Setelah menempuh waktu kurang lebih lima jam akhirnya sampai juga kami di Semarang, dan tujuan pertama rombongan kami adalah museum sekaligus pabrik jamu Nyonya Menier yang terkenal di Jawa Tengah di sana kami mendapat pengetahuan tentang jamu-jamu tradisional dan sejarah dari jamu Nyonya Menier. Ketika waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, rombongan kami langsung menuju ke tempat kunjungan yang ke dua, yang begitu aku nanti-nantikan yaitu di AKPOL sesampainya di lingkunga Kampus Akademi Kepolisian mata ku di suguhi pemandangan yang indah dan begitu terkesan nyaman seperti jauh dari bayanganku ternyata di tempat pendidikan militer lingkungannya begitu indah jadi tidak seperti lingkungan militer.
Begitu turun dari bis, aku dan rombongan disambut oleh para Taruna dan Taruni, sebutan bagi peserta didik di AKPOL, calon perwira polisi Indonesia. Aku begitu terpukau dan kagum melihat sosok Kakak-kakak yang gagah-gagah dan cantik-cantik itu. Kemudian kami di ajak masuk kedalam auditorium kampus AKPOL, tang ruangannya begitu luas dan bagus, di situ aku dan teman-teman rombongan di beri pengetahuan dasar tentang POLISI ataupun AKPOL itu sendiri. Selesai kami diberikan pengjelasan tentang kepolisian dan AKPOL kami di beri kesempatan untuk bertanya jawab masalah kepolisian.
Waktu zuhur pun tiba, kegiatan di dalam auditorium pun usai, untuk kemudian kami diberi kesempatan untuk mengerjakan sholat zuhur sekaligus berjalan-jalan mengelilingi area Akedemi Kepolisian yang bagus dan lengkap dengan fasilitanya.
Kunjungan kami di AKPOL pun akhirnya usai dengan membawa kesan mendaalam di hati kami tentang Akademi Kepolisian dan para Taruna-Taruninya.
Kunjungan kami terus berlanjut menuju Musium Ronggo Warsito dan di akhiri di Simpang Lima pusat kota Semarang. Hingga akhirnya aku beserta rombongan kembali ke Kebumen dengan segala tambahan pengetahuan yang kami peroleh dari kunjungan kami ke kota Semarang. Terutama di AKPOL yang membekaliku kesan mendalam tentang profesi Polisi. Sejak saat itu aku begitu terobsesi  untuk bisa menjadi seorang prajurit Polisi ataupun TNI.

Karya : Ahmad T. Kurniadi

Cerpen

Arti Sahabat


Jam weker menunjukkan pukul enam, ku ambil jam wekerku dengan melotot tajam ke arahnya. Kata-kata “masya Allah” menjadi ungkapan keterkejutanku di padi itu. Aku Ahmad Kurniawan, mungkin bisa dibilang anak yang paling lugu, karena aku adalah anak yang terlalu pendiam dengan segala mimpi-mimpiku. Ku stater motor tuaku yang selalu jadi sahabat setiaku, yang selalu menemaniku dalam perjalanan lajuku berangkat kekampus, ku gas bagai motor balap yang tengah melaju di sirkuit.
Dengan langkah terkikuk sedunia ku ketuk pintu kelasku. Semua mata terarah padaku. “Maaf, Pak saya telat,” kata yang pertama ku ucapkan pada dosen yang tak pernah marah itu. Beliau pun menyuruhku duduk. Dengan jantung masih berjoged dag-dig-dug-deg-degan plus lemas, dengan posisi duduk yang mendukung, yaitu di belakang, aku terima materi perkuliahan dari dosen yang justru membuatku tak sadar tertidur nyenyak.
Sampai akhirnya perkuliahan selesai, aku terbangun karena suara doa penutup majelis dari teman-temanku. Kemudian ku diajak ke kentin oleh sahabatku. “Jek, Kekantin yuuuhk!” katanya padaku. Namanya Edi Iriawan, “boleh juga, kebetulan aku tadi belum sempat sarapan,” kataku. “Oeh,,mau kemana, aku ikut,” sentakan kata dari Kukuh, teman teranah di kelasku. Oh,,, yea aku lupa, belum menceritakan anak-anak di kelasku. Kelasku adalah kelasnya anak-anak yanh suka banget bicara, bercanda sekaligus menyebalkan buatku. Bagi yang gak banyak duit, gak gaul kaya aku ini hanya jadi anak yang terkucil. Untung saja ada Edy dan Kukuh yang selalu jadi sahabat terkental melebihi kentalnya susu kental manis. Mereka juga nglaju, alias ngekos di rumah sendiri seperti aku. Selain itu mereka adalah tempat curhatku, bukan masalah apa-apa sih, cumin yang sering jadi bahan pembicaraan kami adalah tentang cewa cantik, tugas, program-program di laptop dan yang serius adalah masalah salah satu sohib pelaju kita yang kini sikapnya berubah.
Dan setelah aku ke kantin untuk makan yang sudah bisa membuat perutku jadi nggak bernyanyi kroncong lagi, kami pun kembali masuk ke kelas lagi untuk mengikuti perkuliahan jam yang kedua. Dan sambil menunggu dosen masuk kelas, kami biasa membuka laptop milik temanku Edi, untuk hospotan, biasa sambil nyari tambahan materi kuliah. Ketika kedua temanku Edy dan Kukuh tengah asik mainan laptop seperti sudah jadi kebiasaanku, aku ngelamun dan menghayal “kapan ya aku bisa punya pacar cantik yang solih, punya motor bagus, bisa jadi ganteng dan jadi perhatian yang nggak jadi anak terkucil, serta dapat lulus kuliah?”
Akhirnya, jam kuliah kedua pun dimulai. “Awan apa perbedaan dari konteks dengan ko-teks,” pertanyaan dosen padaku, tapi kahayalanku masih terus berlanjut semakin dalam. ”Awan, Awan …dengan nada ngaget menjurus ngebantak, tetapi tetap saja nggak mempan untuk menyadarkanku. Hingga dosenku dengan jurus petirnya akhirnya mampu menyadarkanku, “Awaaan,,,,,!”. Akupun hanya diam karena malu, selain itu juga karena setauku “Diam adalah emas.” Tapi emang dasarnya aku nggak tahu jawabannya. Itulah sedikit kebiasaanku, si Awan.
Tapi biarpun aku suka melamun dan mengkhayal, aku anak yang rajin lho, karena aku tak penah lupa atau mengeluh untuk membantu orang tuaku dan selalu berusaha berbuat baik pada setiap teman, serta jujur untuk setiap pengakuanku, dan yang tak kalah penting juga aku nggak pernah nyontek dalam mengerjakan tugas, dan nggak pernah mau dimintai jawaban tugas sama teman-teman cowo yang malas-malas itu, itu sebabnya banyak teman cowoku yang gak begitu suka dengan aku.
Pada suatu hari yang muram, yaitu hari senin, saat Edi dan Kukuh nggak berangkat karena ada urusan keluarga. Aku pun kaget melihat kedua anak itu tak ada di kelas. Aku pu akhirnya sendiri, hanya berteman dengan kertas dan bulpoin yang jadi sahabat di hari itu.
Inilah masa yang paling gak enak banget buat perasaanku, jam kuliah pertama tiba dan dosen menuruh untuk berkelompok 4 anak. Ketika semua anak sudah mendapatkan kelompok, kecuali aku. Padahal ada 1 kelompok yang baru beranggotakan 3 anak  yaitu kelompok anak gaul, sebut saja namanya Budi, Yogi dan Icas. Ketiga anak ini adalah anak yang sering berusaha minta contekan tugas padaku namun, tak pernah aku kasih. Mereka, melarangku untuk gabung karana aku dibilang pelit karana masalah itu dan dianggap anak katro alias nggak gaul.
Padahal aku ini sudah sadar diri, tentang hal itu. Emang aku ini nggak bisa dan nggak pantas kelompokkan dengan mereka, karena selain aku nggak gaul, aku juga penakut, dan cenderung pemalu. Saat itulah aku benar-benar merasa seperti dicambuk dan dipermalukan, sejak saat itu juga aku semakin sadar diri bahwa aku ini memang sudah terkucil.
Stelah kejadian itu, aku pun berusaha introspeksi diri dan mencari solusi dengan sahabat-sahabatku, ternyata aku selama terlalu egois dan kurang bisa bersyukur pada Tuhan. Sejak saat itu aku pun berusaha berubah dengan berusaha untuk bisa berteman dengan siapa walaupun dia nggak suka dengan saya, dan mengurangi kadar keegoisanku, tapi perlu diingat  untuk masalah teman yang mau nyontek hasil tugasku tetap tidak aku kasih. Pada intinya aku sekarang sudah jadi lebih baik dari aku yang dulu.
Saat hari yang cerah itu dating, aku mendengar dari temanku, bahwa katanya ada teman cewek yang suka sama aku, namanya Mulina atau biasa dipanggil Lina. Aku nggak langsung percaya. Namun, dalam hatiku begitu bahagia. Tetapi emang itulah yang tejadi, tiba-tiba Lina SMS aku, dia bilang bahwa sebenarnya dia sudah lama suka sama aku. Itulah kata pertama sorang cewe kepadaku.
Aku seperti bermimpi, akhirnya khayalanku selama ini tercapai. Hal yang paling membuatku senang adalah karena sejak saat itu teman-teman sekelasku jadi baik sama aku, walau pun aku nggak ikut genk-genkan seperti mereka.
Saat itulah aku semakin yakin bahwa Tuhan akan dekat dengan orang yang juga mendekatkan dirinya pada-Nya, dan pertemanan bukan berarti kita mesti bersama dalam semua hal. Itulah sedikit kisah curahan hatiku.

Karya : Ahmad T. Kurniadi



Vidio Berita

Penyembelihan Hewan Kurban di Mushola AT-TAQWA desa Tanjungsari











Minggu, 22 Januari 2012

Tugas Kuliah


Analisis Struktural
Novel  Az-Zukhruf  Karya Mira D. Lazuba

Tugas ini disusun guna memenuhi Tugas mata kuliah Sejarah Sastra I
yang di ampu oleh Dra. Kadaryati, M. Hum.


Disusun Oleh :
           Nama               :   Ahmad Tambah Kurniadi
           NIM                 :   082110085
           Kelas/Sem        :   VI – C

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2011
v  Identitas Buku
Judul                                 :  Az - Zukhruf
Pengarang                                     :  Mira D. Lazuba
Jumlah halaman                 : 271 hal
Cetakan ke-/tahun             :  Pertama, Januari 2010
Penerbit                             :  Garailmu
Kota / Tempat terbit          :  Jogjakarta

v  Sinopsis
Az – Zukhruf
(Bagaimanakah Menentukan Pilihan Hidup)
Zukhruf, Nabila, Fatih, dan Shiva adalah saudara sekandung yang telah merambah dewasa namun belum juga menemukan jodoh, padahal tiga dari empat saudara itu sudah bisa dikatakan sukses dalam meniti karir. Mereka hidup di lingkungan pesantren dan berasal dari keluarga yang peduli dengan pendidikan, baik itu ilmu pengetahuan umum maupun agama dalam hal ini akhlaknya.
Zukhruf gadis 26 tahun yang baru saja menyelesaikan masternya di Malaysia pulang kampung yang sudah ditinggalnya selama 11, disatukan kembali dengan keluarganya dan dipertemukan lagi dengan sahabat-sahabat kecilnya Faruq di antaranya yang kini begitu berbeda dengan saat dulu terakhir dikenalnya. Tak ada lagi Faruq yang kaya nan terpandang, setelah berbagai cobaan hidup yang di alami keluarganya, yang ditemuinya kini hanyalah sosok pria kumal, seorang buruh tani dan penjaga pesantren. Tidak hanya itu, adik Faruq, Kumala yang oleh Zukhruf sudah dianggap seperti adiknya sendiri, sekarang mengidap gangguan jiwa akibat suatu insiden memilukan yang telah dialaminya dulu saat kepulaangannyaa dari kota kesuciannya terrenggut oleh orang jahat yang ditemuinya dijalan.
Di tengah uji kesabarannya membantu keluarga Faruq yang tengah terpuruk sebab kini dia hanya hidup berdua bersama adiknya yang terkena gangguan jiwa dan hidupnya kini diatas belas kasihan seorang Kiai pengasuh pondok. Keinginannya Zukhruf untuk membantu penyembuhan Kumala adik sahabatnya Faruq, dia masih harus berhadapan dengan perubahan sikap kakaknya, Nabila yang menjadi terkesan memusuhinya. Semua diawali oleh pertemuan dirinya dengan seorang ustadz muda anak Kiai Wahid, pengasuh pondok pesantren yang ada di desanya, yaitu Ustadz Dafik, yang begitu bersahaja, yang mulai dikenalnya saat dia mulai aktif dengan kegiatan pengajian di masjid pondok pesantren dan perkenalannya berlanjut saat dia sering bertemu ketika mereka sama-sama berkunjung ketempat sahabatnya yang kini telah berkeluarga dan telah punya dua momongan yaitu Tina.
Belum lagi tersingkapnya sebuah taabir rahasia mengapa kakaknya Fatih yang kini telah menjadi dokter klinik didesanya, yang di usianya ke-30 tahun, masih memutuskan melajang. Ternyata Kak Fatir masih menyimpan rasa cinta terhadap cinta masa kecilnya yang kini mengidap gangguan kejiwaa yaitu adik Faruq, Kumala. Terbukanya tabir rahasia Fatih harus dibayar mahal setelah dia harus kehilangan Kumala untuk selama-lamanya. Akhirnya kelajangan Fatir usai setelah dia ditemukan pada dokter Diana yang kini jadi isterinya.
Tentang perubahan sikap kakaknya Nabila kepadanya, Zukhruf mulai bisa menguaknya setelah ketika akhirnya Nabila menerima sebuah lamaran yang sungguh bukan dari orang yang diharapkannya,yaitu, dokter Tantra teman kakaknya, yang ikut membantu kakak Fatih di klinik didesanya. Zukhruf tahu kenapa kakaknya saat itu sikapnya berubah sebab sebenarnya Nabila cemburu padanya sebab sosok laki-laki yang begitu diharap-harapkan, Ustadz Dafik justru menyukai adiknya, Zukhruf. Namun kini perubahan sikap kakaknya sudah takkan ada lagi sebab kakaknya telah mempunyai pendamping hidupnya.
Sementara itu, ia sendiri, Zukhruf, kian kuat dan dalam terserat jebakan dua cinta dari dua sosok yang sebenarnya begitu di kaguminya, Faruq dan Ustadz Dafik yang belum disadarinya. Sebab dalam hati Zukhruf yang diharap-harapkanya bisa jadi pendamping hidupnya adalah dia sahabat kecilnya Faruq, melainkan bukan Ustadz Dafik yang dikaguminya. Memeng berat kiranya jika Zukhruf harus memilih satu dari dua sosok ini yang masing-masing mempunnyai keistimewaan yang beda namun hampir sama, apa yang bisa dilakukannya?
Namun apa boleh dikata kehendak Allah berkata lain, ketika Faruq tengah bimbang untuk mengajukan lamaran pada keluarga Zukhruf, diketahuinya sebuah rahasia yang sebenarnya Ustadz Dafik juga jatuh hatu pada sosok yang diidam-idamkan seketika juga harapan Faruq untuk bisa menjadikan Zukhruf pendamping hidupnya semakin jauh, terlebih jika dia ingat jasa-jasa Kiai Wahid terhadap kehidupannya sampai saat ini. Faruk berfikir tak pantas kiranya jika ia membalasnya dengan rasa sakit, sehingga akhirnya dia berusaha mengikhlaskan Zukhruf untuk Ustadz Dafik, dia pun tidak ingin kalau Ustadz Dafik.
Hingga pada akhirnya Zukruf dilamar oleh Ustadz Dafik sosok yang sebenarnya tidak dicintainya, namun Zukhruf menerimanya setelah dia diberi penguatan oleh sahabatnya, Faruq yang kini telah pergi jauh darinya.
Prosesi pernikahan antara Zukhruf dan Ustadz Dafik pun dilakukan dengan ditandai dengan hafalan surat az-Zukhruf oleh Ustadz Dafik sebagai maskawin penikahan.
Inilah salah satu bukti yang di hadirkan dalam novel ini tentang batapa serta bagaimana rumitnya menentukan sikap atas pilihan-pilihan hidup ini. Dimana hidup tak selalu bersikap baik padanya, hidup yang penuh dilema besar yang menyertai jalan ceritanya. . . . . .
Lazuba, Mira D. 2010. Az- Zukruf. Jogjakarta: Garailmu







Struktur Novel
I.     Tema
       Tema menurut Stanton dan Keny (dalam Nurgiantoro ; 2002 : 67) adalah makna yang terkandung oleh sebuah cerita. Tema menurut Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiantoro, 2002 : 68) merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuak karya sastra dan yang terkandung didalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan atau perbedaan-perbedaan. Tema merupakan gagasan sentral sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam suatu tulisan atau karya sastra fiksi (Raminah Barbin, 1985 : 59-60).
       Tema dapat dibedakan menjadi dua jenis menurut, Suharianto (1982: 28) yaitu:
1.    Tema Mayor adalah masalah yang paling dominan menjiwai suatu karya sastra.

2.    Tema Minor adalah permasalah atau masalah-masalah yang ada dan merupakan bagian dari tema mayor.

Adapun tema mayor dan tema minor yang terdapat dalam novel “Az- Zukhruf” adalah:
Tema mayor : “tentang bagaimana menentukan pilihan hidup (jodoh)”
“kalau hati kita telah bergetar pada seseorang, akankah itu berarti dialah jodoh kita?”
“Ehm, belum tentu, Ruq. Saat kita bertemu seseorang dan hati kita bergetar, itu karena Allah memberikan rasa tertarik kepada orang lain, bukan merupakan sinyal bahwa orang itu adalah jodoh kita. Malah kadang, kita tidak merasakan getaran apa-apa pada awal pertama kali kita bertemu jodoh kita. Tapi yang namanya getaran hati itu akan datang dengan sendirinya pada orang yang akan kita nikahi atau merupakan jodoh kita.” (Az-Zukhruf, 2010 : 165)
Tema minor : “tentang bagaimana rumitnya menentukan pilihan hidup ini, hidup yang tak selalu bersikap baik, atau lebih khususnya pada cerita bagaimana menentukan dan mendapatkan pilihan hidup”.
“Lihatlah langit itu, Zu! Langit itu melindungi bumi dan isinya tanpa perrnah mengeluh! Ia ikhlas mengahadapi takdirnya, begitulah dengan kita. Inilah takdir kita, Zu. Kita harus ikhlas menerimanya. Surat az-Zukhruf mengajariku satu hal, dunia ini hanyalah perhiasan-perhiasan semu. Dan, hanya di sisi Allah-lah perhiasan yang sesungguhnya. Itulah perhiasan untukku, Zukhruf untukku. Aku lebih mencintai Zukhruf di sisi Allah, aku lebih mencintai Allah! Aku lebih memilih untuk ikhlas merelakanmu. Kadang sesuatu yang terbaik di matamu, belum tentu dialah yang terbaik di mata Allah. Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, tapi itu bukan kita. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama”. (Az-zukhruf, 2010 : 262)
II.  Fakta Cerita

1.          Tokoh
Tokoh menunjukkan pada orangnya sebagai pelaku cerita. Menurut Abrams (1981 : 20), tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro, 2002 : 165). Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembaca dan penyampai pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

v  Jenis Tokoh
Tokoh dalam novel Az-Zukhruf terdiri dari dua kategori, yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan.
a.     Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan
Pembagian tokoh utama dan tokoh tambahan ini dapat dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh didalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1998 : 176).

Ø Tokoh Utama
Tokoh utama adalah tokoh yang berhubungan dengan setiap peristiwa dan diutamakan penceritaanya didalam novel yang bersangkutan. Tokoh utama dalam novel Az-Zukhruf adalah Zukhruf.
*   Zukhruf
Tokoh utama dalam novel Az-zukhruf adalah Zukhruf. Dia mempunyai watak datar. Dia merupakan perempuan yang solikhah dan baik hati, selain itu dia cantik wajahnya.

“Zukhruf, walaupun telah pergi meninggalkan tanah leluhurnya, tetapi ketaatannya  pada agama Allah tetap terpatri. Budaya luar tak memberangus imannya. Malah, ia makin menggenggam erat keimanan itu saat harus mandiri di negeri orang”. (Az-Zukhruf, 2010 : 18)

“Zukhruf itu memeng sangat setia pada teman-temannya. Sejak kecil, dia selalu sok pemberani jika ada yang mengganggu teman-temannya”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 163)

Ø Tokoh Tambahan
Tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak sentral kedudukanyna dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk mendukung tokoh utama. Adapun tokoh tambahan dalam novel Az-Zukhruf antara lain, Faruq, Ustadz Dafik, Nabila, Dokter Tantra, Tinah, Fatih, dan lain-lainnya. Namun disini penulis hanya akan menguraikan secara rinci pada tokoh tambahan ini sebanyak dua tokoh, yaitu Faruq dan Ustadz Dafik.

a)    Faruq
Faruk adalah tokoh tambahan yang mempunyai sifat dasar. Bentuk fisiknya digambarkan sebagai berikut.

“Lelaki itu, walaupun kini semakin tinggi dan wajahnya telah dewasa, tapi tetap mudah untuk dikenali. Lelaki yang membantunya berdiri tadi adalah orang yang begitu dikenalnya”.
“Zukhruf membalikkan badannya, mengejar lelaki yang telah beranjak pergi sambil berteriak, “Faruq….!”
(Az-Zuykhruf, 2010 : 19-20)

Faruk adalah seorang pria yang sederehana, berkepribadian baik, jujur, rajin dan merupakan pria yang tegar menghadapi cobaan.

“Faruk tumbuh menjadi pemuda yang rajin dan jujur”.
(Az-Zukhruf, 2010 :31)

“Hingga kini, hanya wajah ketegaran yang terpancar dari pribadi Faruk, meskipun masih banyak orang yang tidak menyukainya selama 11 tahun ini”.(Az-Zukhruf, 2010 : 31)

“Zukhruf terisak-isak mendengarkan cerita Abi. Hatinya terasa begitu ngilu saat membayangkan Faruk yang begitu tegar menghadapi cobaan begitu berat. Dirinya tak bisa membayangkan betapa suci hati Faruq, lelaki teman kecilnya itu”. (Az-Zukhruf, 2010 : 31)

b)   Uztadz Dafik
Ustadz Dafik adalah sosok lelaki yang solih, ramah dan baik hati. Selain itu dia mempunyai pemahaman yang luas mengenai masalah agama.

“Kadang, dia juga hanya mampir untuk ngobrol dan memperdebatkan masalah  agama. Dia adalah orang yang ramah dan baik hati”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 72)

2.         Alur
Alur atau (plot) merupakan unsur fiksi yang penting. Staton (1965 : 14) mengemukakan; plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan  secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Abrams (1981 : 137) mengemukakan bahwa plot merupakan struktur peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan penyajian berbagai peristiwa unruk mencapai efek emosional dan efek artistik tertentu.
Alur (plot) novel Az-Zukhruf paling dominan adalah alir maju, yaitu alur yang menceritakan peristiwa-peristiwa secara runtut (urut) dari awal sampai akhir. Sebelumnya, penulis akan menguraikan tahapan alur (plot) dari situation (penyituasian) sampai dencumen (penyeleaian).
Tahap situation (penyesuaian), di ceritakan pada awal cerita tentang kepulangan seorang gadis 26 tahun yang bernama Zukhruf  setelah menyelesaikan masternya di Malaysia pulang kekampungnya yang telah ditinggalkannya selama 11 tahun.
“Mengapa kau pulang begitu mendadak, Zu? Tak memberi kabar dulu,” ucap Abi dengan nada sedikit kesal. Zukhruf hanya tersenyum sambil menikmati sarapanya”.
“Maaf Abi, Zukhruf hanya ingin membuat surpraise. Lagi pula, Zukhruf tidak mau merepotkan Abi dan Umi jika harus menjemput Zu.”
(Az-Zukhruf, 2010 : 9)
Tahap generating circuinstance (pemunculan konflik) diceritakan ketika Zukhruf dipertemukan dengan sahabat kecilnya Faruq, di tempat dimana dulu mereka sering bermain bersama, yaitu di sawah.
“Orang-orang yang mengelilingi Zukhruf tersenyum dan memintanya berhati-hati, lalu mulai pergi meninggalkanya, kembali kepekerjaannya mereka semula. Sementara Zukhruf berdiri mematung di pinggir pematang sawah dalam keadaan penuh lumpur. Dia pun tertawa dalam hati. Inilah yang diinginkanya selama ini. Bermain lumpur, begitu dekat dengan sawah, bergulat kembali dengan alam. Tapi , pada detik berikutnya, ia tersadar. Lelaki itu, ia merasa mengenalnya. Leleki itu, walaupun kini semakin tinggi dan wajahnya telah dewasa, tapi tetap mudah untuk dikenali. Lelaki yang membantunya berdiri tadi adalah orang yang begitu dikenalnya.
“Zukhruf membalikan badanya, mengejar lelaki yang telah beranjak pergi sambil berteriak, “Faruq”. (Az-Zukhruf, 2010 : 19-20)
Tahap rising action (peningkatan konflik) digambarkan saat Nabila mengetahi bahwa Zukhruf telah diantar pulang oleh Ustadz Dafik ketika pulang dari rumah Tinah.
“Ustadz Dafik?” Nabila memastikan.
“Zukhruf menoleh kearah kakaknya itu, lalu mengangguk lemah.”
“Kau diantarkan pulang oleh seorang lelaki dan kalian hanya berdua saja? Apa maksudmu?” Nabila mulai meninggikan suaranya, sedangkan yang lain hanya diam menanti.”
(Az-Zukhruf, 2010 : 128)
“Abi tersenyum, membuat Zukhruf lega. Tapi tidak dengan Nabila. Ia hanya bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamarnya. Tidak berapa lama, Nabila keluar lagi sambil sedikit membanting pintu kamarnya. Menyandang tasnya dengan tergesa-gesa dan meninggalkan rumah tanpa pamit. Ruang makan begitu sepi.”
(Az-Zukhruf, 2010 : 129)
Tahapan climax (klimaks) digambarkan pada saat Zukhruf harus menerima kenyataan bahwa dia dilamar oleh Ustadz Dafik, lelaki yang tak pernah ia cintai, dan menerima bahwa lelaki yang selama ini di cintainya tidak mencintainya.
“Aku dilamar, Ruq, aku dilamar Ustadz Dafik. . . .”
Zukhruf menunduk sedih. Faruq hanya diam,
Memandang kelangit lepas, menahan sakit hatinya.
“Bagus, itu kabar gembira!”
Zukhruf tidak percaya Faruq berkata seperti itu.
“Aku tidak mencintainya!” seru Zukhruf.
“Kau akan dengan mudah mencintainya!”
“Aku mencintai oaring lain.”
“Orang lain itu tidak mencintaimu!”
“Dari mana kau tahu?”
“Karena dia adalah aku!”
Faruk menatapa Zukhruf, lalu memandang mukanya lagi.
Mata Zukhruf berkaca-kaca.“Mengapa?”
 (Az-Zukhruf, 2010 : 259)
Tahapan denoument (penyelesaian) digambarkan saat Zukhruf akhirnya menerima lamaran dan dinikahi oleh seorang lelaki yang selama ini tidak dicintainya dan diharap-harapkan menjadi pendamping hidupnya, yaitu Ustadz Dafik.
“Umi, mencintai untuk saya adalah melakukan segala hal agar orang yang     saya cintai bahagia. Faruq akan berbahagia dengan pernikahan ini, oleh karenanya saya akan melupakan Faruq. Umi, saya akan belajar mencintai Ustadz Dafik, karena Faruq berkata kepada saya bahwa Ustadz Dafik begitu mudah untuk dicintai. Saya ikhas dengan takdir ini, Umi. Sungguh, demi Allah, saya ikhlas. . . .”(Az-Zukhruf, 2010 : 266-267)
Setelah itu, prosesi ijab kobul pernikahan Zukhruf dengan Ustadz Dafik pun dilaksanakan.
“Saya nikahkan anak saya, Zukhruf az-Zahra binti Thamrin dengan Dafik Ramadhan bin Wahid dengan maskawin hafalan surat az-Zukhruf dan seperangkat alat sholat dibayar tunai. . . .”
“Saya terima nikah dan kawinya Zukhruf az-Zahra binti Thamrin dengan maskawin hafalan surat az-Zukhruf dan seperangkat alat sholat dibayar tunai. . . .” (Az-Zukhruf, 2010 : 268)
Harapan adalah sebuah mimpi yang kadang  memang dapat menjadi kenyataan yang dapat kita raih. Namun, bisa juga semua harapan yang telah di rencanakan tidak sesuai dengan harapan kita. Oleh karena itu, selain berusaha alangkah baiknya jika harapan-harapan kita imbangi dengan pasrah pada Allah sang perencana dunia ini.
3.    Latar (setting)
Abrams (1981 : 175) menyatakan bahwa latar adalah landas tumpu, penyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosoial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa  yang diceritakan ( Nurgiantoro, 2002 : 216).
Nurgiantoro ( 2002 : 227) membedakan latar menjadi tiga unsure pokok, yaitu:
1)    Latar tempat (menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam karya sastra.

Latar tempat dalam novel Az-Zukhruf ini kenyakan berada di daerah pedesaan ujung timur Jawa Tengah, tepatnya daerah Solo.

“Hari ini, ia ingin sekali berkeliling desa melihat pemandangan yang telah lama ditinggalkannya. Akankah segalanya berubah? Dia berdebar-debar menantikan saat-saat berjalan-jalan di desa. Hal yang paling tidak bisa ia lupakan adalah sawah yang terhampar luas. Seluruh mata hanya memandang kehijauan.”
(Az-Zukhruf, 2010 : 15)

“Sebenarnya, mulai dua bulan yang lalu, Zukhruf menjadi dosen di Universitas Islam Surakarta.’
(Az-Zukhruf, 2010 : 68)

2)    Latar waktu (menyaran pada “kapan” terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya sastra)
Latar waktu dalam novel Az-Zukhruf terjadi pada zaman yang masih bisa dikatakan zaman peralihan dari zaman kuno ke zaman modern. Seperti pedesaan pada umumnya dengan keterbatasan akses dunia luar, belum ada klinik kesehatan masyarakat, dan listrik pun masuk belum lama ini.

“Zukhruf termenung. Benar juga, daerah mereka memang termasuk pelosok di Jawa. Bahkan, mereka baru merasakan listrik sekitar sepuluh tahun terakhir ini. Dengan keterbatasan akses ke dunia luar, daerah mereka memang sangat membutuhkan klinik kesehatan. Banyak orang sakit yang harus dibawa ke kota, tapi terhalang trnsportasi dan jarak, yang pada akhirnya tak sempat di selamatkan, atau menyerahkan hidup mereka pada dukun-dukun syirik di kaki gunung yang meminta tumbal anak perawan.
(Az-Zukhruf, 2010 : 12)

3)      Latar sosial (mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan social masyarakat disuatu tempat yang diceritakan dalam karya sastra).
Latar sosial dalam novel Az-Zukhruf antara lain :
1.      Seorang Dosen
Seorang dosen ada dalam tokoh Zukhruf. Zukhruf adalah seorang pemuda yang telah mengenyam gelar masternya di Malaysia.

“Tapi, itu bukan pekerjaannya yang sesungguhnya. Sebenarnya, mulai dua bulan yang lalu, Zukhruf menjadi dosen Universitas Islam Surakarta”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 68)

2.      Seorang Dokter
Seorang dokter yang ada dalam tokoh Fatih. Fatih menjadi satu-satunya dokter yang ada di desanya yang saat ini diminta untuk menjadi dokter klinik di desanya.

“Fatih telah berhasil menjadi satu-atunya dokter di kampung mereka”. (Az-Zukhruf, 2010 : 10)

“Sekarang, dia sedang mengurusi surat-suratnya, izin praktik, bantuan dokter, bantuan dokter, pengiriman obat, dan lain-lain”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 11)
3.      Seorang Pekerja Sawah
Seseorang yang bekerja di sawah ada dalam tokoh Faruq. Faruq adalah seorang pemuda anak tuan tanah yang rajin dan jujur, yang kini bekerja di sawah setelah keluarganya mengalami keterpurukan (bangkrut).

“Faruk tumbuh menjadi pemuda yang rajin dan jujur. Orang–orang mulai bersimpati kepadanya dan memberikan pekerjaan untuk Faruq. Seperti Abi yang meminta Faruq untuk mengurus sawah”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 31)

III.   Sarana Sastra
a)      Judul
Menurut Stanton (1965 : 25), judul suatu cerita biasanya memberikan gambaran akan makna suatu cerita. Oleh karena itu hubungan judul itu sendiri terhadap cerita dapat dideskripsikan sebagai berikut.
Sebagai pembayangan cerita, berkaitan dengan tema cerita, berkaitan dengan tokoh cerita, berkaitan dengan teknik penyelesaian, berkaitan dengan latar dan waktu, sebagai titiktolak konflik antar pelaku. Judul sering dinyatakan dalam wujud pepatah, dan judul merujuk suasana.
Judul novel “Az-Zukhruf” mengacu pada keterkaitan tokoh utama dalam cerita. Az-Zukhruf mempunyai arti “perhiasan”, yang diambil dari salah satu surat dalam al-Qur’an surat ke-43 dan dalam cerita ini judul ini di gunakan sebagai nama dari salah satu tokoh yang menjadi pusat pengisahan cerita.
Az-Zukhruf merupakan judul yang tepat, karena memang dalam isi novel peran Zukhruf sebagai sosok seoarang perempuan muda yang cantik, pintar dan sholikhah, ia begitu taat beragama yang mampu menjadi penggerak konflik antar tokoh.
Judul Az-Zukhruf mengandung suatu amanat. Amanat adalah perasaan yang ingin disampaikan pebgarang kepada pembaca. Amanat yang terkandung dalam novel Az-Zukhruf, yaitu sesuai dengan artinya kata Zukhruf mempunyai makna “perhiasan”, amanat yang tersirat dalam novel Az-Zukhruf adalah bahwasanya semua yang ada di dunia ini hanyalah sebuah perhiasan, kesenangan kehidupan dunia yang takan abadi, dan masih ada dunia yang lebih indah dan kekal abadi yaitu kehidupan akhirat di sisi Tuhan, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.
Judul Az-zukhruf mampu merangsang pembaca untuk lebih tahu apakah isi dalam novel itu dan apa yang menjadi objek penceritaannya.
Hubungan judul dengan cerita
Seperti yang telah dituliskan di depan, bahwa judul berhubungan erat dengan cerita, salah satunya dapat diekspresikan dengan tokoh utama, sikap tokoh, dan watak tokoh yaitu Zukhruf dimana nama Zukhruf yang diadopsi dari judul novel ini. Sikap Zukhruf yang baik hati dan taat beragama begitu sesuai dengan jalan ceritanya dimana Zukhruf ini yang berarti perhiasan dalam cerita ini diceritakan sebagai sosok perempuan yang menjadi idaman bagi para kaum lelaki mampu menjadi poros cerita.
Hubungan judul dengan alur
Judul Az-Zukhruf mempunyai arti “perhiasan”, yang diambil dari salah satu surat dalam Al-Qur’an, surat ke-43, dan alur dalam novel Az-zukhruf ini adalah alur maju. Dalam hubungan judul dengan alur terlihat, dimana judul Az-zukhruf kemudian dijadikan sebagai nama tokoh, yaitu sosok perempuan cantik yang solihah, seperti halnya perhiasan menjadi rebutan perasaan cinta dua lelaki tampan yang solikh yaitu Faruq dan Ustadz Dafik. Yang pada akhirnya perebutan cinta itu berhasil dimenangkan oleh Ustadz Dafik.
Hubungan judul dengan latar
Judul Az-Zukhruf mempunyai hubungan yang sangat erat dengan latar. Semua itu diketahui dari pemilihan judul Az-Zukhruf yang diadopsi dari nama surat dalam al-Qur’an dan latar yang disini disebutkan bahwa latarnya adalah kehidupan keluarga dalam masyarakat pedesaan yang berada di dalam lingkungan pondok pesantren, dimana tokoh Zukhruf hidup dalam keluarga yang patuh akan aturan agama dan begitu memperhatikan pendidikan, baik pendidikan umum atau pun pendidikan akhlak pada semua anggota keluarganya.
b)     Point of View ( sudut pandang / pusat pengisahan)
Sudut pandang atau pusat pengisahan merupakan titik pandang dari sudut mana cerita itu dikisahkan (Nurgiyantoro, 2005 : 18). Di dalam novel Az-Zukhruf pengarang menggunakan pusat pengisahan persona ketiga mahatahu. Pengarang menjadi narrator, yaitu seorang yang ada diluar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata ganti ia, dia, dan mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap dan terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti (Nurgiantoro, 2005 : 256)
Sudut pandang ini narrator mampu menceritakan sesuatu, baik yang bersifat fisik, terdapat di indra, maupun sesuatu yang hanya terjadi dalam hati dan pikiran tokoh, bahkan lebih dari seorang tokoh. (Nurgiyantoro, 2001 : 285)
“Ustadz Dafik mengamati gubuk tua itu. Membayangkan Zukhruf menangis di gubuk itu, tapi buru-buru ditepisnya bayangan itu”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 163)
Mereka terdiam. Faruk memendang kesawah yang ada di hadapannya, teringat akan kejadian tempo hari saat Zukhruf meneguhkan hatinya di sawah ini. Jantungnya berdegup kencang hanya dengan membayangkan kejadian itu. Faruk tersenyum simpul. Hatinya berbunga-bunga, walaupun diyakininya Zukhruf melakukan itu sebagai sahabat, tapi tetap saja terasa lain di hatinya”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 163)
c)      Humor
Humor adalah kemampuan meerasai sesuatu yang lucu atau yang menyenangkan, atau suatu keadaan dalam cerita yang menggelikan hati, kejenakaan atau kelucuan. (KBBI, 2008 : 533)
Humor yang ada di dalam cerita novel Az-Zukhruf adalah sebagai berikut.
“Kambing abu-abu itu! Aku akan memberinya nama untuknya.”
“Ha? Memberi nama untuk kambing itu?”
“Iya, kambing itu adalah kambing yang susah diajak keluar dari kandang, berjalan lambat, suka mengganggu yang lain, dan rewel sekali tentang makanan. Dia harus dididik secara khusus. Jadi, sebelumnya harus diberi nama dulu, agar aku mudah mengingatnya.”
“Boleh! aku setuju. Siapa nama untuknya?”
“Zukhruf. Zukhruf az-Zahra!”
Zukhruf seketika melotot seangkan Faruq tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Zukhruf.
“Kambing itu mirip sekali denganmu!” ucap Faruqsambil memandang ke arah Zukhruf, tertawa terpingkal-pingkal lagi.
“Ah. . ., Faruuuq!” Zukhruf berteriak tidak terima.
(Az-Zukhruf, 2010 : 41-42)

d)     Majas ( Gaya Bahasa)
Setiap pengarang terutama pengarang yang sudah mapan atau yang sudah menemukan bentuk kepengarangannya mempunyai cirri atau gaya bercerita yang berbeda dengan pengarang lain. Hal ini disebabkan gaya bahasa adalah cara mengungkapakan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperhatikan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). (Keraf, 1990 : 133)
Menurut Nurgiyantara (2005 : 296), pemajasan merupak salah satu bentuk retorika. Pemajasan merupakan tekhnik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan yang ditambahkan, makana yang tersirat. Gaya bahasa atau majas yang di pergunakan di dalam novel Az-Zukhruf adalah sebagai berikut.
1.      Hiperbola
Gaya bahasa atau majas adalah gaya bahasa yang mengabdung pernyataan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu hal atau keadaan. Penggunaan gaya bahasa ini memberikan kesan menyangatkan, intensitas, dan juga ekspresivitas terhadap hal dan keadaan (Pradopo, 1990 : 98)

“Zukhruf mengangguk dan menatap abinya dalam-dalam. Hatinya bergemuruh menanti cerita abinya tentang teman kecilnya itu.” (Az-Zukhruf, 2010 : 26)

“Abi menghentikan kisahnya sejenak dan mengambil napas panjang. Sementara Zukhruf tercengang dengan cerita abinya. Matanya berkaca-kaca. (Az-Zukhruf, 2010 : 28)

“Nabila memejamkan matanya dan tak terasa telah tergenag air oleh air mata. Dalam hati, Nabila  menjerit. Pilu tangisnya tak dapat ditahan. Berkali-kali, disebutnya asma Allah dan beristighfar hingga ia tak sanggup lagi berkata dengan jelas. Tangisnya memecah kesunyian kantor guru.
(Az-Zukhruf, 2010 : 132)

“Alunan pembacaannya tetap dapat membius setiap orang yang mendengarkan”. (Az-Zukhruf, 2010 : 152)

Hatinya bergemuruh, matanya berkaca-kaca, matanya tak terasa telah tergenang air mata, tangisnya memecah kesunyian kantor guru, dan pembacaannya tetap dapat membius setiap oaring yang mendengarkan adalah contoh-contoh hiperbola dalam kalimat tersebut yang mengandung pengertian menyangatkan dan memantapkan, sehingga menimbulkan suasana yang menegangkan.

2.      Bahasa Kiasan
Menurut Keraf, bahasa kiasan adalah bahasa yang maknanya tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan makna kata-kata yang membentuknya (Nurgiyantoro, 2008 : 298)
Menurut (Pradopo, 1990 : 61-62), bahasa kiasan dibentuk dengan mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan yang lain. Berfungsi untuk menarik perhatian, menimbulkan kesegaran hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambar.

a.      Simile
Menurut Nurgiyantoro (2005 : 298), simile menyarankan pada adanya perbandingan yang langsung dan eksplisit, dengan mempergunakan penanda keeksplisitan seperti : seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip, dan sebagainya.
Menurut Pradopo (1991 : 62), simile merupakan gaya bahasa yang mempersamakan suatu hal dengan hal yang lain dengan kata-kata pembanding. Fungsi dari simile adalah dapat memahami dengan baik lewat konteks wacana yang bersangkutan.

“Menangis karena mendapati dirinya telah jatuh hati kepada Ustadz Dafik, yang memiliki suara seindah bisikan angin”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 132)

“Apapun yang akan diperbuatnya, semuanya seakan memakan buah simala kama. Ia tak mau kahilangan Ustzdz Dafik, jika harus memilih Tantra”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 226)

“Tantra masih terteguh menikmati detik-detiknya mengucapkan kalimat kabul untuk menikahi Nabila. Serasa tubuhnya ditimpa Bukit Tsur, Sina”.
(Az-Zukhruf, 2010 : 239-240)

Didalam novel ini, contoh simile yang digunakan adalah mempersamakan keindahan suara Ustadz Dafik dengan bisikan angin, seakan memakan buah simala kama dan rasa gugup Tantra saat mau melaksanakan ijap kabul seperti ditimpa Bukit Tsur, Sina. Dari simile tersebut menimbulkan suasana tenang dan ssuasana menegangkan.

b.      Bahasa Asing
Banyak ditemui bahasa atau kata-kata asing yang digunakan Mira D. Lazuba dalam novel Az-Zukhruf. Bahasa atau kata-kata yang ditemui tersebut, dari Arab dan Inggris.

Bahasa Arab

“Hal ini terjadi karena sejak SMA, Zukhruf diminta tinggal dengan amah-nya di kota yang hidup sebatang kara sejak ditinggal mati suaminya. (Az-Zukhruf, 2010 : 10)

“Lama-lama kau juga harus tahu dari orang-orang yang memang mengetahuinya secara persis. Semoga ini bukan ghibah, Zu.
(Az-Zukhruf, 2010 : 26)

“Nanti jika sudah ada ta’aruf, baru seorang wanita boleh bertanya kepada orang-orang di sekitar sang lelaki tentang perihalnya. Ingat itu, Tinah!”
(Az-Zukhruf, 2010 : 72)

“Istrimu sedang dioprasi, Akhi, tenanglah dulu.
(Az-Zukhruf, 2010 : 84)

“Wajahnya yang begitu hanif, perangainya yang shalih, dan kehebatannya dalam urusan agama memang merupakan daya tarik tersendiri.
(Az-Zukhruf, 2010 : 95)

Afwan, Ukhti Nabila,” panggil Ustadz Dafik tiba-tiba.
(Az-Zukhruf, 2010 : 135)

Bahasa Inggris

“Maaf Abi, Zukhruf hanya ingin membuat surprise.
(Az-Zukhruf, 2010 : 9)

“Umi shock melihat keadaan Zukhruf yang berselimut lumpur di sekujur badannya” (Az-Zukhruf, 2010 : 22)

“Dia senang bermain dokter-dokteran dan masak-masakan, kadang aku harus jadi pasian atau menjadi partner-nya memasak.

“Wah, all item!” seru Zukhruf. (Az-Zukhruf, 2010 : 150)

Pengertian amah (bibi), ghibah (dosa), ta’aruf (perkenalan), akhi (kamu laki-laki), hanif (tampan), ukhti (dia perempuan). Surprise (kejutan), shock (terkejut), partner (teman), all item (semua jenis).

Penggunanan bahasa asing ini memberikan kesan menarik bagi pembaca novel, disamping menambah pengetahuan bahasa juga merangsang pembaca untuk mengetahui keseluruhan cerita. Keinginan mendapat pengetahuan bahasa atau kata-kata asing ini membuat mereka tidak membaca novel secara sepintas namun dengan perhatian lebih.
Selain itu, penggunaan bahasa dan kata-kata Arab dan Inggris juga mendukung dan memperkuat latar masyarakat disekitar pondok pesantren dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan yang ditonjolkan pengarang di dalam novel Az-Zukhruf. Penggunaan bahasa asing ini dapat menjadikan suasana lebih terasa hidup.

e)      Nada dan Suasana
Nada merupakan kualitas gaya yang memaparkan sikap pengarang terhadap pembaca karyanya. Suasana dapat berkisar pada suasana yang religius, romantik, melankolis, menegangkan, teragis, mengharukan, dan sebagainya.
Menurut Keanny, nada merupakan ekspresi sikap, sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan terhadap pembaca. Stile adalah sarana, sedangkan nada adalah tujuan. Salah satu kontribusi penting dari stila adalah untuk membangkitkan nada. (Nurgiyantoro, 2005 :284-285)
a.    Ironi
Ironi diartikan sebagai suatu pernyataan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan. Menurut Stanton (1965 :34), membagi ironi yang ada di dalam karya sastra menjadi dua, yaitu ironi dramatic dan ironi verbal.

1.    Ironi Dramatis (ironi situasi)
Menurut Stanto (1965 : 45), ironi dramatis atau sering dikenal pula sebagai irono plot atau ironi situasi secara mendasar tergantung pada pertentangan yang sangat kontras antara penampilan dan kenyataan, antara perhatian tokoh dengan apa yang nyata-nyata terjadi. Sering kali unsure-unsur yang dikontraskan dihubungkan secara logis atau sebagai hubungan sebab akibat.
Dalam novel Az-Zukhruf, ironi jenis ini terdapat pada cerita.

“Tadi, Abi mengantarkan Faruq kepelabuhan, ia akan bekerja di Batam. Dia tidak mengantarkannya kepadamu perihal kepergiannya ini?”
Zukhruf tertunduk lemas, lalu menggeleng pelan.
“Faruq tidak mengatakan apa-apa….”
Abi memegang pundak Zukhruf lembut. ”Biarkan dia pergi Zu. Ini yang terbaik untuknya. Ia akan lebih berkembang dengan bekerja di Batam. Ia juga akan lebih bahagia memulai hidupnya yang baru.”
Zukhruf mengangguk pelan, lalu membatin, “Dan, dia juga akan melupakanku…”, lalu terisak di dalam pelukan abinya.
Inilah takdir yang harus mereka jalani. Pergi adalah langkah terbaik yang diambil Faruq. Ia tidak ingin membuat Zukhruf dan dirinya terus-menerus terluka. Biarlah dia pergi dan kehilangan, karena ia telah terbiasa dengan itu. Begitu terbiasa dengan kehilangan sesuatu, maka apalah bedanya kini jika ia harus kehilangan satu lagi, kehilangan Zukhruf. Maka , ia yakin, dirinya akan tabah. Ia percaya Allah telah merancang perjalanan hidup yang terbaik untuknya. Inilah yang terbaik, inilah adanya.(Az-Zukhruf, 2010 : 263-264)

2.    Nada Ironis atau Ironi Verbal
Menurut Stanton (1965 : 46), nada atau verbal muncul ketika seseorang menyampaikan maksudnya dengan menyatakan sebaliknya. Nada ironis ini diucapkan oleh Nabila kepada Ustadz Dafik dan oleh Zukhruf yang merupakan tokoh utama dalam novel ini kepada sahabatnya Faruq.

Nabila pada Ustadz Dafik

“Tak dapat saya pungkiri, saya tertarik kepada Ustadz, memendam perasaan keapada Ustadz dengan begitu dalam.
“Dan kini, setelah sekian lama saya mendam perasaan ini, saya hanya ingin Ustadz tahu bahwa impian saya hanyalah menjadi halal untuk Ustadz, akankah impian saya itu terwujud?”
(Az-Zukhruf, 2010 : 229)

Ukhti Nabila, saya sungguh terima kasih atas perasaan Ukhti kapada saya. Jujur saya sangat terkejut dengan apa yang Ukhti Nabila sampaikan hari ini. Tapi maaf, saya tidak bisa menjadikan Ukhti sebagai wanita yang halal bagi saya. Saya tak bisa menjanjikan itu kini. Kadang , apa yang terbaik di mata kita belum tentu terbaik juga dimata Allah. Saya juga hanyalah laki-laki biasa, yang juga memiliki cinta dan harapan. Maafkan saya atas ketidaksanggupan saya menerima ini….” (Az-Zukhruf, 2010 : 230)

Zukhruf pada Faruq

“Aku dilamar, Ruq, aku dilamar Ustadz Dafiq…..”
Zukhruf menunduk sedih. Faruq hanya diam, memendang kelangit lepas, menahan sakit hatinya.
“Bagus itu kabar gembira!”
Zukhruf tak percaya mendengar Faruq berkat seperti itu.
“Aku tidak mencintainya!” seru Zukhruf.
“Kau akan dengan mudah mencintainya!”
“Aku mencintai orang lain”
“Orang lain itu tidak mencintaimu!”
“Dari manakau tahu?”
“Karena dia adalah aku!”
(Az-Zukhruf, 2010 : 259)

“Apakah aku salah jika aku….”
“Salah, kau telah keliru mengartikan hubungan di antar kita. Aku  karena kau adalah sahabatku. Aku mencintaimu seperti aku mencintai Kumala, kau telah kuanggap sebagai saudara.”
“Kau bohong!”
“Aku tidak pernah bohong”
(Az-Zukhruf, 2010 : 260)









































Daftar Pustaka

Lazuba, Mira .D. 2010. Az-Zukhruf. Jogjakarta. Gurailmu
Wahyuningtyas, Sri. 2006. Teori dan Aplikasi Sastra. Purworejo. Universitas Muhammadiyah Purworejo
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Elektronik. Jakarta. Pusat Bahasa